Articles

1

Setelah menyelesaikan pendidikan di Nagoya University Hospital, Jepang, tahun 2003, dr M Sofyanto, Sp.BS tidak membuang-buang waktu. Bersama almarhum Profesor Yoshio Suzuki, Sofyanto mengembangkan bedah mikro di Surabaya.

OLEH FABIOLA PONTO

Kasus-kasus pun berdatangan kepada Sofyanto. Salah satunya ketika seseorang datang memeriksakan diri karena menderita sakit kepala tak berkesudahan. Untuk mencari penyebab, penderita itu disarankan menjalani magnetic resonance imaging (MRI).

“Dari sana baru terlihat bahwa ada pembuluh darah kecil yang menyentuh saraf nomor lima di batang otak,” tutur Sofyanto.

Artinya, penderita itu terdiagnosis trigeminal neuralgia, rasa nyeri luar biasa pada wajah, gusi dan gigi. Kebanyakan penderita ini kerap mengira sedang sakit gigi.

Trigeminal neuralgia terjadi karena pembuluh darah pada saraf nomor lima bersentuhan sehingga menjadi lengket. Saraf ini yang mengatur perasa wajah di sekitar batang otak.

“Sifatnya incidental. Jadi, trigeminal neuralgia sebenarnya bukan penyakit,” kata Sofyanto yang juga menangani penderita dar berbagai Negara di antaranya Qatar, Malaysia, dan China.

Ia mengingatkan, trigeminal neuralgia sama sekali bukan disebabkan sakit gigi, seseorang dalam keadaan stress, ataupun kelelahan. Hanya saja bila penderita mengalami gangguan psikis, reaksi pada penderita akan semakin parah.

“Rasa sakitnya sangat hebat sampai beberapa penderita ingin mati karena tak tahan lagi,” kata Sofyanto sambil menambahkan bahwa trigeminal neuralgia juga kerap dijuluki penyakit bunuh diri.

Meski berbagai pengobatan ditempuh, tetapi rasa sakit tidak lenyap bila tak tertangani denga tepat. Tidak sedikit pasien yang membiarkan giginya dicabut, tetapi rasa sakit tak kunjung hilang. Kondisi demikian ternyata cukup banyak terjadi.

Untuk gambaran, trigeminal neuralgia menimpa delapan dari sekitar 100.000 orang. Penderita di Indonesia pun cukup banyak, tetapi rata-rata mereka tak mengetahui penyebab sakitnya itu. “Dari statistic jumlah penderita trigeminal neuralgia di Indonesia kira-kira 30.000 orang,” ujar Sofyanto.

“Persoalannya, banyak dokter yang juga tak mengetahui tentang trigeminal neuralgia, baik dokter umum, spesialis, dokter gigi, maupun saraf,” katanya.

Sejauh ini, trigeminal neuralgia hanya bisa ditangani dengan bedah mikro. Belum ada tindakan medis lain yang mampu memisahkan pembuluh darah yang lengket.

Cara alternatif, seperti tusuk jarum, pijat, dan injeksipun tak akan berguna untuk penderita trigeminal neuralgia. “jangan percaya mitos apapun, termasuk dengan merelakan diri ditampar, berendam di kotoran babi, atau tusuk jarum mulai ujung rambut sampai kaki,” katanya mengingatkan.

Sempurnakan teknik

Tanpa terasa, Sembilan tahun berlalu sejak Sofyanto mulai mengembangkan bedah mikro. Pada tahun-tahun awal, ia membedah lubang berukuran sekitar 2 sentimeter (cm) di batang otak.

Kini ukuran lubang yang dibedah mengecil, sekitar 1 cm. “Masa bedah yang semula memerlukan waktu sampai tiga jam kini lebih singkat menjadi 1,5 jam,” kata Sofyanto.

Bagaimanapun berbagai jenis bedah mempunyai risiko. Demikian pula bedah mikro. Beberapa kemungkinan di antaranya penderita mengalami stroke karena pembiusan dan manipulasi. “Bisa juga terjadi seusai bedah tekanan darah penderita naik turun,” ujarnya.

Selain itu, setiap pembedahan juga berisiko menyebabkan infeksi. Namun, Sembilan tahun melakukan bedah mikro berbagai risiko tersebut bisa diminimalkan.

Sampai kini tidak ada penderita yang mengalami kebutaan, lumpuh, ataupun risiko fisik lain. “Kira-kira tingkat keberhasilan bedah mikro terhadap penderita mencapai 97 persen,” cerita Sofyanto.

Selain trigeminal neuralgia, insiden serupa juga bisa terjadi pada wajah dan menyebabkan hemifacial spasm. Bedanya, di sini penekanan pembuluh darah terjadi pada saraf fasialis, yaitu saraf ketujuh (motoris).

Dalam konteks itu, bedah mikro juga harus dilakukan pada penderita hemifacial spasm. “Penderita tidak mengalami kesakitan, tetapi wajahnya berkedut terus-menerus,” papar ayah empat anak ini.

Menyebarluaskan informasi

Sayangnya, pengetahuan masyarakat dan dokter terhadap trigeminal neuralgia masih minim. Oleh karena itu, mantan penderita trigeminal neuralgia masih minim. Oleh karena itu, mantan penderita trigeminal neuralgia dan hemifacial spasm bersepakat membentuk komunitas sejak tahun 2009.

Bersama Komunitas Trigeminal Neuralgia Indonesia dan Komunitas Hemifacial Spasm Indonesia, Sofyanto berupaya menyebarluaskan informasi sebagai bentuk tanggung jawab social. Kedua komunitas menerbitkan bulletin minimal setahun sekali.

Para anggota bergerak, baik bagi penderita maupun dokter dengan mengirim majalah yang mereka terbitkan. “Majalah dikirimkan kepada dokter spesialis, lembaga dan institusi kesehatan, laboratorium medis, fakultas kedokteran, sampai dokter gigi. Ini bagian dari edukasi,” papar dokter yang setiap bulan menangani 20 – 40 bedah mikro ini.

Selain itu, anggota komunitas juga menggelar bakti social melalui pengobatan gratis ke berbagai kota. Ia berupaya meluangkan waktu pada akhir pecan rata-rata sekali dalam sebulan.

Dia berharap ada pusat-pusat kesehatan yang mau mengembangkan bedah mikro, terutama bagi penderita trigeminal neuralgia dan hemifacial spasm. Dia akan membantu edukasi kepada semua pihak agar penderita tertangani dengan tepat.

“Saya bersedia memberi pelayanan dan mendampingi rekan sejawat,” kata Sofyanto.

Dr. M. Sofyanto, Sp.BS

Lahir      : Malang, Jawa Timur (Jatim), 29 November 1965

Istri        : Nunuk Yulia Arsiyanti

Pendidikan antara lain :

  •           Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, 1989
  •           Bedah Saraf Universitas Airlangga Surabaya, 2001
  •           Minimally Invasive, Stereo Taxis and Gamma Knife, Singapore General Hospital, 1996
  •           Pascasarjana Bedah Saraf di Institut Kedokteran Singapore General Hospital, 1998
  •           Penyakit Neuro vascular, Sekolah kedokteran Paris-Sud University, Bicetre, Perancis, 2005-2006

 Pengalaman       :

  •          Kepala Pelayanan Kesehatan Masyarakat Pulau Bawean, Gresik, Jatim, 1990-1994
  •              Departemen Bedah Saraf RS Dr. Soebandi, Jember, Jatim, 2001
  •          Departemen Bedah Saraf RS Prof. Johanes, Kupang, Nusa Tenggara Timur, 2002
  •          Departemen Bedah Saraf RSAL Dr. Ramelan, Surabaya, 2003
  •          Dokter Bedah Saraf di RS Husada Utama, Surabaya, 2006 – 2011
  •          Dokter Bedah Saraf di RS Bedah Surabaya, 2011 - sekarang

 

        Sumber: Kompas, 3 Mei 2012

 

Affiliation

  • Comprehensive Brain & Spine Center
  • Komunitas Hemifacial Spasm Indonesia
  • Komunitas Cervical Indonesia
Previous Next

Polling

New Website

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan baru website ini?

1
65
Tampilan bagus, isi bagus.
2
42
Tampilan kurang, isi kurang.
3
40
Tampilan bagus, isi kurang.
4
23
Tampilan kurang, isi bagus.
5 Votes left

Surabaya Corner

ROKSTORIES ERROR: File not found: images/pict_artikel/sov.%20the%20soerabaja.png

peta-surabaya

Surabaya atau lebih dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan pertempuran heroik nya yang terjadi di tahun 1945 antara Pejuang-pejuang Arek-Arek Suroboyo melawan tentara Inggris.

Read more...

 Jadi Tempat Nongkrong Anak Muda Sampai Fasilitas Manula

surabaya

        Kota Surabaya saat ini tidak hanya dikenal dengan kebersihan dan kerapiannya saja tapi juga dikenal memiliki puluhan taman indah yang tersebar di berbagai penjuru kota. Taman yang lengkap dengan aneka bunga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota tapi sekaligus menjadi tempat wisata bagi warga.

Read more...

sov. the soerabaja

Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ternyata belum memiliki souvenir yang benar – benar khas Surabaya. Terinspirasi dari lingkungan Mahasiswa Ubaya menyalurkan ide kreatifnya untuk membuat souvenir khas Surabaya yang dinamakan “The Soerabaja”

Read more...