Articles

Nyeri Gusi Belum Tentu Sakit Gigi

 INTISARI 119 foto

Penulis : Gandhi Wasono M., Wartawan di Surabaya


Banyak penderita pasrah saja dicabut gigi, bahkan hingga kehilangan beberapa gigi, dan ternyata tidak sembuh. Trigeminal Neuralgia (TN) tidak bersumber pada gigi. Ini masalah saraf yang berpusat di otak. Sebuah bedah mikro bisa menyelesaikannya.

 

IMG 0114

INTISARI 123 foto

Tedy Kartono (Acay), penderitaan 15 tahun hilang seketika

Ishak Antony (Anton), "Saya sudah berpikir tidak akan sanggup menahan rasa sakit itu terus-menerus."

 

Tedy Kartono, 65 tahun, tak pernah bisa melupakan penderitannya yang berlangsung selama 15 tahun, dari 1995 hingga 2010. “Sekarang saya memang sudah sembuh, tapi kenangan yang begitu meyakinkan itu tak akan bisa terlupakan,” kata Tedy yang di kampong halamannya, Palembang, Sumatera Selatan, dikenal dengan panggilan Pak Acay.

 

Suatu saat di tahun 1995, Acay yang memiliki usaha penginapan, merasa di seputaran gigi bagian kirinya bermasalah. Rasa nyut-nyutan sering muncul tanpa sebab, kadang sampai di bagian wajahnya. Ia pergi ke dokter dan meminum berbagai macam obat. Tak ada perubahan.

 

Intensitas rasa nyeri makin tinggi. Bapak tujuh orang anak ini jadi tersiksa, aktivitasnya terganggu. Ia lantas ke dokter gigi. Menurut sang dokter gigi, itu bersumber pada giginya, dan cara termanjur adalah mencabutnya. “Demi kesembuhan, saya nurut saja,” Acay mengenang.

 

Ternyata, gigi sudah dicabut, rasa nyeri tidak sirna. Bahkan cekot-cekot terjadi makin sering dan makin menyakitkan. “Saya tidak bisa menggambarkan sakitnya. Kadang-kadang seperti diestrum.”

 

Tapi Acay masih berpikiran, barangkali gigi lain penyebabnya. Ia pun kembali ke dokter gigi semula. Menurut sang dokter, ada gigi yang pernah ditambal yang diduga sebagai biang kerok, dan itu harus dicabut. “Terus terang saya sudah tidak bisa berpikir normal. Setiap saran yang diajukan dokter, saya setujui. Saya sudah tidak tahan lagi,” papar suami dari Vony ini.

 

Gigi bertambalan itu pun dicabut. Tapi lagi-lagi pria humoris ini kecewa. Ia kembali bergelut dengan derita rasa nyerinya. “Kami semua bingung, ini sakit apa kok dokter tidak bisa mengetahui penyebabnya?”

 

Rasa nyeri makin hari makin menjadi-jadi. Ia merasa wajahnya seperti disilet, ditusuk-tusuk jarum, kadang seperti disetrum. Sempat terlintas dugaan, itu disebabkan oleh kanker.

 

Belum putus asa, Acay beralih ke beberapa dokter lain, umum maupun spesialis. Ternyata mereka pun hanya member obat penghilang rasa sakit. “Namanya juga penghilang rasa sakit, ya berlangsung beberapa jam saja. Setelah reaksi obat habis, sakit kembali datang.”

 

Atas rekomendasi beberapa teman, ia ke RS Mount Elizabeth Singapura. Benar, dari hasil pemeriksaan secara lengkap dan mahal, ada dugaan kuat Acay menderita penyakit yang disebut Trigeminal Neuralgia (TN). Lalu dokter ahli bedah saraf ternama yang menangani mengatakan, salah satu jalan untuk menyembuhkan harus dilakukan operasi.

 

Awalnya Acay gembira. Tapi setelah mendengar risikonya, nyalinya menciut. Dokter bilang, untuk memastikan penyakitnya ia harus membuka batok kepala Acay. Nanti kalau memang tidak ditemukan penyakitnya maka batok kepala Acay. Nanti kalau memang tidak ditemukan penyakitnya maka batok kepala akan ditutup lagi tanpa ada tindakan apa pun. Tapi batok kepala yang dibuka mengandung risiko, 50% pulih dan 50% tuli. “Mental saya langsung down. Begitu terguncangnya saya, dalam seminggu berat badan turun tujuh kilogram, dan terus menurun.”

 

Acay kembali bergelut dengan derita. Kehidupannya sangat terganggu. Apalagi ada aktivitas yang jika dilakukan, rasa sakit langsung mendera. Aktivitas itu sederhana saja : makan, gosok gigi, dan buang air besar. Saat makan, menggosok gigi, atau mengejan untuk buang air besar. Saat makan, menggosok gigi, atau mengejan untuk buang air besar, ia merasakan wajahnya seperti disayat-sayat pisau silet. “Saya tidak peduli dengan bau mulut akibat tidak gosok gigi, perut kembung akibat tidak buang air besar,” ujar Acay.

 

Setelah 15 tahun mati-matian mencari kesembuhan namun tidak berhasil, suatu ketika dia mendapat informasi, di Surabaya ada seorang dokter bedah saraf yang bisa mengobati dengan operasi. Tanpa membuang waktu, dia kemudian menemui dr. M. Sofyanto, Sp.BS (yang juga ahli menyembuhkan derita Hemifacial Spasm alias mulut perot lewat operasi, Intisari Maret 2009). “Pada awalnya saya agak ragu, soalnya dokter spesialis di Singapura saja tidak berhasil, masak dia bisa melakukan?” kata Acay.

 

Namun, dengan penjelasan yang gambling, keraguannya susut. Acay pun meberanikan diri dioperasi. “Saya nyaris tidak percaya. Beberapa jam setelah operasi selesai, saya sama sekali tidak merasakan sakit lagi, hingga sekarang,” kata Acay yang merasa dapat mukjizat.

Sudah menyiapkan pemakaman

 

Ishak Antony, 51 tahun, juga nyaris putus asa gara-gara nyeri serupa, meski tidak selama Acay. Lelaki yang tinggal di Batu, Jawa Timur, ini mengawali cerita dengan kalimat, “Saya berpikiran tidak akan hidup lama lagi. Makanya, dari Jakarta saya balik ke kampong halaman di Kediri (Jawa Timur). Kalau kelak akhirnya meninggal, saya bisa dimakamkan di tanah kelahiran saya.”

 

Anton, pria berbadan subur dan rendah hati, ayah satu anak dari istrinya, Mercy, awalnya berkarier dan sukses di Jakarta. Profesinya sebagai desainer jewellery yang telah ditekuni selama 25 tahun membawanya ke tingkat kehidupan yang mapan. “Pokoknya, serba berkecukupan.”

 

Suatu saat di sekitar tahun 2004, sehabis makan, dia merasa ada sesuatu pada giginya. Rasa cekot-cekot timbul-tenggelam pada gusi dan kemudian wajahnya juga. Tapi karena sebelumnya tidak pernah sakit gigi, Anton cuek saja.

 

Tapi, pada hari berikutnya, gejala yang sama muncul lagi. “Saya minum obat penghilang rasa sakit, tapi beberapa jam berikutnya cenut-cenut lagi,” cerita Anton.

 

Merasa ada yang tidak beres, dia periksa ke dokter gigi. Dokter menduga kuat ada salah satu gusinya yang bermasalah dan itu harus dicabut. “Sebenarnya dari fisik gigi saya bagian belakang itu sehat. Tapi karena dokter bilang itu penyebabnya, ya saya harus merelakannya.”

 

Ternyata dugaan itu salah. Rasa sakit tetap timbul-tenggelam. Bahkan makin lama makin sering. Belum putus asa, Anton kembali lagi ke dokter gigi. Lagi-lagi dokter mengatakan, ada gigi lain yang jadi penyebabnya. Hasrat untuk sembuh begitu menggebu-nggebu menyebabkan Anton menurut saja ketika dokter mencabut lagi satu giginya.

 

Tapi dasar apes, ternyata itu bukan akhir dari penderitaannya. Gigi kedua sudah dienyahkan, tapi rasa wajah seperti disayat-sayat tak mau sirna juga.

Rupanya Anton belum kapok. Ia kembali ke dokter gigi lagi, cabut gigi lagi, dan lagi. Hingga total lima giginya telah dicabut. “Saya akui, saat itu saya sudah tidak bisa berpikir normal. Sakit yang luar biasa itu membuat saya nurut saja ketika dokter menawarkan tindakan apa pun. Saya pasrah diapakan saja asal sembuh.”

 

Gagal total berurusan dengan dokter gigi, Anton beralih ke dokter saraf. Menurut sang dokter, dia mengalami gangguan pada sarafnya, namun tidak ada informasi spesifik saraf yang mana. Ia hanya diberi obat-obatan dan disuntik untuk menghilangkan rasa sakit. Deritanya tak berkurang, sehingga ia beralih ke dokter saraf lain, juga di Jakarta. “Sampai tujuh dokter saraf saya datangi, tidak berhasil,” ceritanya dengan mimik gusar.

 

Tanda-tanda keputusasaan mulai muncul, tapi Anton belum menyerah. Ia mendatangi seorang ahli gizi. Dari ahli gizi itulah dia mengetahui bahwa ia mengidap TN. Menurut sang ahli, salah satu cara yang bisa dia lakukan adalah mengatur pola makan dan jaga pikiran. Dengan pola makan yang benar, ditunjang dengan pengaturan emosi, rasa sakit akan berkurang.

 

Sejak itu Anton menuruti saran sang ahli gizi. Dia menjadi vegetarian, lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Sementara untuk menstabilkan jiwanya, dia mulai diajari yoga. “Setelah total vegetarian, berat tubuh saya tidak tanggung-tanggung turunnya, dari 94 kg turun jadi 52 kg,” kata Anton yang saat ini tubuhnya sudah kembali bugar berisi.

 

Tapi lagi-lagi, semua tidak berhasil. Anton putus asa. ”Saya benar-benar bingung, saya ini sakit apa sih sebenarnya? Padahal Jakarta kan tempatnya para dokter ahli berada,” ucap Anton yang juga mencoba berobat ke akupunturis asli Cina tapi tetap gagal meski wajahnya sudah berulang kali ditusuk puluhan jarum.

 

Sejak sakit, dia tidak bisa kerja lagi bekerja dengan baik. Kreativitasnya mandek, relasi bisnis yang sudah terjalin puluhan tahun terputus. “ Saya tidak punya pekerjaan lagi,” katanya.

 

Ada satu pengalaman yang membuat Anton down. Pada suatu hari dia kedatangan tamu dirumahnya. Tapi, baru berbicara beberapa saat, rasa nyeri menyerang dengan hebatnya. Karena tak tahan, ia berteriak- teriak dan langsung masuk kamar. “Saya dikira menderita penyakit jiwa.”

 

Di tengah keputusan, Anton menjual semua asetnya di Jakarta dan kembali ke kampong halamannya di Kediri, Jawa Timur. Ia pulang kampong dengan tujuan. Pertama, Jakarta tidak bisa lagi dijadikan pijakan karena ia sudah tidak punyapekerjaan. Kedua, dia merasa hidupnya tidak akan lama lagi. “ maka dari pada dia meninggal di Jakarta, lebih baik saya dimakamkan di Kediri saja,” ucapnya.

 

Tahun 2006 ketika di Kediri itulah, dia mendapat informasi bahwa di Surabaya ada dokter yang bisa menangani sakit yang dideritanya. Kebetulan di kota tersebut ada orang yang mengalami penyakit serupa dan sembuh melalui operasi. Tanpa piker panjang, Anton meluncur ke Surabaya untuk menemui dokter M. Sofyanto. Ia masih ingat persis, saat itu sebenarnya dokter berhalangan. Tapi setelah menemui Anton, Sofyanto tidak tega melihat tangan Anton bergetar memegang ujung meja sambil mengerang kesakitan. Seketika itu juga dilakukan MRI,dan sore harinya dilakukan operasi, ia hampir tak percaya bahwa dirinya tak merasakan sakit seperti semula.

 

“Rasanya seperti mimpi saja. Percaya atau tidak, keesokan paginya saya langsung melahap dua piring nasi pecel. Maklum, sudah lama tidak bisa makan enak,” kata anton yang kini membantu istrinya mengelola penginapan milik sebuah perusahaan rokok, sambil tertawa.

Kini pengalaman itu dia sebarkan kemana-mana agar orang yang mengalami sakit seperti dirinya tidak putus asa, karena saat ini sudah ada tehnik penyembuhannya.

 

Perlengketan Saraf dengan Pembuluh Darah....( bersambung )

 

 

 

Affiliation

  • Komunitas Hemifacial Spasm Indonesia
  • Comprehensive Brain & Spine Center
  • Komunitas Cervical Indonesia
Previous Next

Polling

New Website

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan baru website ini?

1
92
Tampilan bagus, isi bagus.
2
60
Tampilan kurang, isi kurang.
3
53
Tampilan bagus, isi kurang.
4
35
Tampilan kurang, isi bagus.
5 Votes left

Surabaya Corner

ROKSTORIES ERROR: File not found: images/pict_artikel/sov.%20the%20soerabaja.png

peta-surabaya

Surabaya atau lebih dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan pertempuran heroik nya yang terjadi di tahun 1945 antara Pejuang-pejuang Arek-Arek Suroboyo melawan tentara Inggris.

Read more...

 Jadi Tempat Nongkrong Anak Muda Sampai Fasilitas Manula

surabaya

        Kota Surabaya saat ini tidak hanya dikenal dengan kebersihan dan kerapiannya saja tapi juga dikenal memiliki puluhan taman indah yang tersebar di berbagai penjuru kota. Taman yang lengkap dengan aneka bunga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota tapi sekaligus menjadi tempat wisata bagi warga.

Read more...

sov. the soerabaja

Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ternyata belum memiliki souvenir yang benar – benar khas Surabaya. Terinspirasi dari lingkungan Mahasiswa Ubaya menyalurkan ide kreatifnya untuk membuat souvenir khas Surabaya yang dinamakan “The Soerabaja”

Read more...