Untung yang Masih Beruntung

untung-TN

Foto oleh : Herry Mohammad

Bagi seorang penderita, ikhtiar mencari kesembuhan adalah suatu keharusan. Tak ada kata menyerah untuk mencari kesembuhan, baik secara medis maupun non medis. Langkah itulah yang dilakukan Untung S. Rajab, 55 tahun, atas penyakit yang dideritanya selama dua setengah tahun.

Penyakit yang diderita Untung S Radjab, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Kapolda Kalsel), adalah trigeminal neuralgia. Penyakit ini terjadi karena pembuluh darah kecil menekan saraf sensoris wajah (saraf trigeminus). Disebut trigeminal neuralgia karena nyeri wajah terjadi pada satu atau lebih saraf dari tiga cabang saraf trigeminal, yang terletak diotak dan membawa sensasi dari wajah ke otak.

Jika penyakit itu menyerang, penderita akan merasakan sakit seperti nyeri yang berat, bahkan seperti terkena setrum listrik. Serangan ini berlangsung dalam beberapa detik sampai semenit. Serangan nyeri itu bisa spontan, bisa juga karena tersentuhnya titik pemicu atau karena aktifitas tertentu, seperti menggosok gigi atau mengunyah. Karena bersentuhan dengan gigi, tak jarang pasien berobat ke dokter gigi.

Serangan bak muka kesetrum itulah yang membuat Untung tak bisa mengunyah makanan. “Semua makanan dicairkan, baru disedot, seperti bayi,” kata Untung kepada GATRA. Sejak awal terkena serangan, Untung berusaha berobat ke berbagai dokter di Jakarta, bahkan sampai ke Singapura. “Diagnosisnya macam- macam. Bahkan ada yang bilang, ini gejala stroke ringan,” paparnya. Berbagai obat dia konsumsi, tapi “ muka kesetrum” tak juga menjauh. Lalu teman dan kerabatnya membawa orang-orang “pintar” dengan beragam predikat. Mereka datang dari dataran rendah sampai pegunungan, menyusuri sungai dan mengarungi lautan. Puluhan orang “pintar” yang memberi terapi menemukan berbagai benda tajam, seperti paku, jarum, bahkan keris. “Tapi semuanya tak bisa menyembuhkan penyakit ini,” kata Untung sambil tersenyum geli. Sejalan dengan itu, dia tetap berikhtiar mencari dokter karena yakin bahwa ini penyakit medis.

“Saya takut terjerumus kepada syirik,” tutur Untung, mengenang masa –masa pengobatan yang dilakukan orang orang “pintar” itu. Syirik adalah menyekutukan Tuhan dan merupakan dosa yang tak terampuni. Tidak semua saran orang-orang “pintar” itu dilaksanakan oleh Untung, jika menurut dia tidak masuk akal atau melanggar syariat islam, dia tinggalkan.

“Misalnya saya diberi air untuk diminum. Saya katakan, dirumah tersedia banyak air,” katanya sembari melepas tawa. Tapi orang-orang “pintar” itu datang silih berganti dengan beragam obat temuan. Sementara itu, Untung terus bermunajat kepada Allah SWT agar ditunjukkan jalan menuju kesembuhan. Ia yakin betul akan sabda Nabi Muhammad SAW, yang diri wayatkan Imam Bukhari dan Imam Ahmad, bahwa “Setiap penyakit ada obatnya.”

Maka, pada awal Agustus 2009, ia mendapat informasi bahwa ahli penyakit seperti yang dialaminya itu ada di Surabaya, M. sofyanto, nama dokter itu, adalah ahli bedah saraf. Kontak pun akhirnya dilakukan. Akhirnya, pada pertengahan Agustus 2009, Untung menjalani operasi microsurgery (bedah mikro saraf).

Usai operasi yang memerlukan waktu sekitar empat jam itu, Untung sadar kembali. Dua hari kemudian, ia diperbolekan pulang ke Banjarmasin, tempatnya bertugas. Sejak ia dioperasi sampai kini, penyakit yang sering muncul dadakan itu tidak kambuh.

Untung tidak sendirian, ada delapan orang lagi yang pernah dioperasi Sofyanto. Bahkan ada yang lebih parah dari dirinya. Nyonya Khe Tho, misalnya. Ia menderita trigeminal neuralgia selama tiga tahun. Semua gigi bagian bawahnya habis. Ini terjadi karena dokter mendiagnosis bahwa penyebab sakitnya adalah masalah gigi. Begitu satu persatu gigi bagian bawah dicabut, sakit pun tetap mengakrabinya.

Begitu juga yang dialami Samuel Silitonga. Setelah lima tahun menderita, barulah ia menemukan dokter Sofyanto. Ia sembuh setelah menjalani operasi. Padahal, Samuel sudah menjalani operasi bedah saraf disebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Ternyata, beberapa bulan kemudian, rasa kesetrum dibagian mukanya kambuh. Setengah tahun kemudian, ia menjalani operasi.

Jika dibandingkan dengan nyonya Khe Tho dan Samuel Silitonga, Untung S. radjab masih beruntung. Ia “hanya” mengalami penyakit itu dua setengah tahun. Giginya tidak rontok. Operasi pun hanya dilakukan sekali, dan berhasil.

 

Mau Sembuh, Ya Operasi

Oleh : Herry Mohammad, dan arif sujatmiko (Surabaya)

Trigeminal neuralgia adalah penyakit yang cukup langka. Dari satu juta populasi, terdapat 107 laki-laki dan 200 perempuan yang menderita penyakit ini. Bisa didiagnosis menggunakan foto MRI (magnetic resonance imaging).

MRI menerapkan getaran RF (radio frequency) hydrogen yang langsung mengenai tubuh pasien. Getaran itu menyebabkan proton yang ada pada tubuh pasien diserap dan menghasilkan energy, yang menyebabkan berputar (spin) dan presses (pergerakan lambat pada pergerakan aksis) pada arah yang berbeda-beda. Inilah yang disebut resonasi.

Hal itu terjadi bila terdapat satu atau dua juta proton yang berbeda, menghasilkan frekuensi resonansi. Lalu dihitung berdasarkan sebagian jaringan yang telah diambil dan berdasarkan kekuatan medan magnet pada bagian yang akan didiagnosis. Hasilnya tersebut slice atau potongan-potongan. Ukurannya hanya beberapa millimeter dan sangat presisi.

Pada saat getaran RF dimatikan, proton hydrogen menjadi lambat kembali kebentuk awalnya, yang mengakibatkan terjadinya pelepasan energi. Kemudian proton itu ditangkap medan magnetik. Setelah itu, sinyal dikirim ke coil dan dilanjutkan ke komputer. Data yang diperoleh diproses dengan komputer menggunakan transformasi Fourier.

Menurut Sofyanto, trigeminal neuralgia bisa disembuhkan menggunakan teknik operasi microsurgery, yakni memisahkan pembuluh darah yang menekan saraf trigeminus. Kemudian menempatkan bahan penyekat serabut Teflon agar tidak tertekan kembali. Begitu operasi selesai, nyeri wajah, gusi dan gigi karena trigeminal neuralgia akan hilang.

Sofyanto tidak sependapat jika dikatakan bahwa penyakit ini terjadi akibat kelelahan, terlalu banyak berfikir, stress, atau cemas. “ Apalagi kalau disebabkan ulah mahluk halus,” tuturnya. Agar sembuh dari penyakit ini, menurut Sofyanto, hanya ada satu jalan, yakni operasi. “Jika tidak dilakukan operasi, penyakit ini akan semakin menyiksa dan tidak akan pernah sembuh seumur hidup penderitanya, “kata sofyanto”.

 

Sumber : Gatra 19 Mei 2010

 

Affiliation

  • Komunitas Cervical Indonesia
  • Comprehensive Brain & Spine Center
  • Komunitas Hemifacial Spasm Indonesia
Previous Next

Polling

New Website

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan baru website ini?

1
65
Tampilan bagus, isi bagus.
2
42
Tampilan kurang, isi kurang.
3
40
Tampilan bagus, isi kurang.
4
23
Tampilan kurang, isi bagus.
5 Votes left

Surabaya Corner

ROKSTORIES ERROR: File not found: images/pict_artikel/sov.%20the%20soerabaja.png

peta-surabaya

Surabaya atau lebih dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan pertempuran heroik nya yang terjadi di tahun 1945 antara Pejuang-pejuang Arek-Arek Suroboyo melawan tentara Inggris.

Read more...

 Jadi Tempat Nongkrong Anak Muda Sampai Fasilitas Manula

surabaya

        Kota Surabaya saat ini tidak hanya dikenal dengan kebersihan dan kerapiannya saja tapi juga dikenal memiliki puluhan taman indah yang tersebar di berbagai penjuru kota. Taman yang lengkap dengan aneka bunga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota tapi sekaligus menjadi tempat wisata bagi warga.

Read more...

sov. the soerabaja

Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ternyata belum memiliki souvenir yang benar – benar khas Surabaya. Terinspirasi dari lingkungan Mahasiswa Ubaya menyalurkan ide kreatifnya untuk membuat souvenir khas Surabaya yang dinamakan “The Soerabaja”

Read more...