Perlengketan Saraf dengan Pembuluh Darah

Apa sejatinya penyakit TN yang dialami oleh Acay maupun Ishak Antony. Menurut dr. M. Sofyanto, Sp.BS yang berpraktik di RS Bedah Surabaya, trigeminal neuralgia (TN) adalah kondisi tersentuhnya atau terjadinya perlengketan saraf nomor lima, yaitu saraf sensor wajah atau indera perasa wajah dengan pembuluh darah kecil.

Sofyan, begitu dokter ini acap disapa, menjelaskan, pada dasarnya tubuh manusia dikendalikan oleh 12 saraf yang masing-masing memiliki fungsi sendiri. Misalnya, saraf nomor satu berfungsi dalam indra penciuman, saraf nomor dua sebagai penglihatan, saraf nomor lima sensor wajah atau perasa wajah, nomor tujuh sebagai penggerak otot wajah, dan lain-lain.

 Kedua belas saraf tersebut menjulur dari otak kemudian turun ke tempatnya masing-masing. Pada penderita TN, saraf nomor lima di sekitar batang otak bersentuhan dengan pembuluh darah yang di sana memang bercabang-cabang berseliweran. Tak sekedar menyenggol, kadang juga terjadi perlengketan, saling menempel. Ketika sudah lengket, lama-kelamaan saraf yang lebarnya 4-5 mm dengan permukaan lembut itu akan mengalami trauma karena pembuluh darah yang menempelnya tidak statis tapi kembang-kempis mengikuti irama jantung.

 Trauma akibat perlengketan pasa saraf nomor lima tersebut akan menimbulkan sakit yang luar biasa pada pasien. Sakit itu sendiri akan makin menjadi ketika penderita mengalami stress, sebab denyut jantung makin kencang sehingga gesekan makin besar. Kalau sudah lengket, lanjut Sofyan, tidak ada cara lain selain memisahkannya dengan tindakan operasi. Obat maupun terapi apa pun tidak akan bisa memisahkan. “Karakternya memang demikian. Ketika sudah lengket, maka tidak akan bisa lepas sendiri kalau tidak dipisahkan,” papar Sofyan.

 Dalam kasus Acay, karena trauma sudah berlangsung 15 tahun, secara fisik saraf yang tertekan itu sudah sangat mengkhawatirkan, sudah menipis dan berwarna pucat.

Penyebab munculnya TN itu sendiri ada beberapa factor. Pertama karena bawaan, pembuluh darah memang kelebihan panjang sehingga lebih besar kemungkinan untuk menyenggol organ lain. Penyebab kedua adalah faktor usia, ketika struktur otak manusia mengalami perubahan sehingga pembuluh darah mengalami perubahan posisi. “Karena itulah penderita TN didominasi mereka yang di atas usia 40 tahun. Usia di bawah itu ada, tapi persentasenya kecil,” papar Sofyan yang di setiap operasi selalu satu tim dengan dr. Gigih Pramono,Sp.BS.INTISARI 126 foto

 

Operasi di area 10 milimeter

Karena yang dioperasi adalah kawasan yang sangt vital, yaitu otak, itu pun dalam area sempit, maka diperlukan teknik operasi tersendiri, yaitu bedah mikro (microsurgery). Tekniknya, batok kepala di bagian belakang telinga pasien dilubangi sebesar 1,5 cm. Operasi berlangsung di balik selaput otak dalam bidang yang lebarnya hanya 10 mm. karena kecilnya area operasi, semua pekerjaan dilakukan tidak dengan mata telanjang, tapi dengan mikroskop. Setelah saraf dan pembuluh darah yang lengket terlihat, maka dengan sangat hati-hati dilakukan pemisahan. “Di sana berkumpul saraf-saraf penting, jadi semua pekerjaan harus sesempurna mungkin dan tidak boleh ada kesalahan. Sedikit kesalahan saja maka akan fatal akibatnya,” papar Sofyan yang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Setelah terpisah, supaya saraf dan pembuluh darah tidak lengket lagi maka diberi pembatas berupa bantalan dari serabut Teflon sebagai isolator. Baru setelah itu batok kepala ditutup kembali. “Semua tindakan itu dilakukan tanpa pendarahan, tanpa melukai saraf maupun pembuluh darah,” imbuh Sofyan sambil menjelaskan, selama operasi keluarga pasien bisa melihat dari ruang terpisah melalui layar televisi.

Sofyan memaparkan, sebelum operasi dilakukan dia akan melakukan MRI pada pasien agar posisi saraf yang bermasalah terlihat jelas. “Umumnya hasil MRI tercetak dalam bentuk slide, tapi saya memiliki software yang bisa membacanya di computer, sehingga selain lebih jelas, lebih detail, juga bisa digerakkan dalam konfigurasi tiga dimensi.”

Sejak pertama kali melakukan operasi TN tahun 2003, tim Sofyan dan Gigih sudah menangani lebih dari 100 pasien yang selain dari dalam negeri juga berasal dari Qatar, Malaysia, juga pasien rujukan dari dokter saraf di Singapura.

Sofyan menjelaskan, pengobatan TN ditemukan oleh Petter Janetta dari Amerika di tahun 1965. Setelah mempelajari literature dari janetta kemudian dia mengembangkan diri dengan berguru langsung kepada Prof. Yoshio Suzuki, ahli bedah saraf ternama di Nagoya, Jepang. Dari ahli saraf yang kini sudah marhum itu Sofyan banyak belajar, antara lain diajak melakukan operasi dan mencari cara memperkecil dampak operasi itu.

Kendati operasi ini berada di wilayah yang sangat vital, Sofyan meminta pasien tidak perlu khawatir. Dengan kecanggihan teknologi, tingkat keberhasilan operasi itu mencapai 95%. “Yang lima persen itu pun bukan berarti gagal total, tapi proses pemulihannya agak sedikit lambat. Sedang yang berhasil dengan baik, itu satu-dua hari sudah kembali sempurna.”

Memprihatinkan bahwa penderita TN ternyata cukup banyak. Dalam statistik, dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta lebih, diprakirakan ada 32 ribu orang yang mengalami sakit seperti itu. “Hanya saja sakit jenis ini belum terlalu banyak diketahui orang,” imbuh lelaki yang pernah mendapat penghargaan sebagai dokter teladan tersebut.

 

Membentuk Wadah

Karena informasi tentang TN dirasa perlu, beberapa orang yang peduli, termasuk para mantan penderita, mendirikan sebuah wadah edukasi sekaligus berbagi yang dinamakan Komunitas TN.

“Kami prihatin dengan minimnya pengetahuan masyarakat tentang TN ini. Makanya kami mendirikan wadah social untuk membantu member pengarahan kepada penderita di mana pun berada,” kata Ir. Satwiko Rumekso, ketua KomunitasTN.

Upaya mereka mensosialisasikan informasi mengenal TN juga mereka lakukan melaui website www.tnindonesia.org. “Karena selama ini banyak orang salah paham. Sakit TN selalu diawali dengan rasa sakit di sekitar gigi, padahal itu belum tentu gigi sebagai pemicunya,” sambung Rumekso seraya menambahkan, saat ini wadahnya diisi oleh para “aktivis” yang tersebar di berbagai daerah.

 

Sumber : Intisari Desember 2011

 

Kembali ke awal artikel : Nyeri Gusi Belum Tentu Sakit Gigi (Intisari, Desember 2011)

 

 


 



Affiliation

  • Komunitas Cervical Indonesia
  • Komunitas Hemifacial Spasm Indonesia
  • Comprehensive Brain & Spine Center
Previous Next

Polling

New Website

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan baru website ini?

1
92
Tampilan bagus, isi bagus.
2
60
Tampilan kurang, isi kurang.
3
54
Tampilan bagus, isi kurang.
4
35
Tampilan kurang, isi bagus.
5 Votes left

Surabaya Corner

ROKSTORIES ERROR: File not found: images/pict_artikel/sov.%20the%20soerabaja.png

peta-surabaya

Surabaya atau lebih dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan pertempuran heroik nya yang terjadi di tahun 1945 antara Pejuang-pejuang Arek-Arek Suroboyo melawan tentara Inggris.

Read more...

 Jadi Tempat Nongkrong Anak Muda Sampai Fasilitas Manula

surabaya

        Kota Surabaya saat ini tidak hanya dikenal dengan kebersihan dan kerapiannya saja tapi juga dikenal memiliki puluhan taman indah yang tersebar di berbagai penjuru kota. Taman yang lengkap dengan aneka bunga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota tapi sekaligus menjadi tempat wisata bagi warga.

Read more...

sov. the soerabaja

Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ternyata belum memiliki souvenir yang benar – benar khas Surabaya. Terinspirasi dari lingkungan Mahasiswa Ubaya menyalurkan ide kreatifnya untuk membuat souvenir khas Surabaya yang dinamakan “The Soerabaja”

Read more...